Menjelajah Machu Picchu di Peru dan trekking di Inca Trail

Capture

Aguas Calientes, Agustus 2015

Sebuah percakapan antara saya dan seorang teman di sebuah spa sederhana setelah kami pulang dari Machu Picchu.

“ Eh, lihat deh, itu kayaknya orang-orang yang habis pulang Inca Trail ya?”

“ Iya, kayaknya… kurang tantangan banget ya hidupnya. Kan bisa naik kereta aja sih, tinggal naik bus terusnya”

“ Yoi, duduk manis, naik tangga dikit sampai deh!”

“Haha,cocoklah! kita naik tangga dikit aja udah pijetan gini yak apalagi kalau beneran Inca Trail…”

Kami berdua pun tertawa.

Akhirnya, Peru!

Sepanjang hidup saya, inilah penerbangan terpanjang yang pernah saya tempuh. Total penerbangan 30 jam dengan transit di 3 negara melintasi 3 benua. Makan-Tidur- Menonton,, siklus hidup sementara yang terulang selama 3 hari perjalanan. Akhirnya, 5 jam penerbangan terakhir dari Sao Paulo menuju Lima saya lalui dengan tertidur saja. Jujur saja, saya sudah terlalu capai duduk terus di pesawat. Sehingga rasanya energi yang tersisa hanya tinggal dipakai untuk tidur saja. Saya pun terbangun ketika pesawat menyentuh tarmac bandara internasional Jorge Chavez diiringi dengan pesan selamat datang dari awak pesawat. Sambil mengucek mata saya melihat ke luar jendela pesawat dan hanya mendung dan kabut yang saya lihat. Tapi itu tidak membuat saya kecut, karena saya begitu bersemangat! Saya sampai di Peru!

!Hola, Buenos Dias! Sapa pengemudi transport bandara yang kami pesan dari hostel tempat saya menginap dengan senyum lebar. Saya membalas sapaannya tentunya dengan Bahasa Spanyol yang sudah saya latih. Ia terlihat terkesan. Tanpa basa basi lebih lanjut kami langsung diboyong ke parkiran dan menuju Miraflores.

Di mobil kami berbincang dengan Bahasa Spanyol sepotong-sepotong.

“Pais?” Tanyanya.

Saya jawab “Indonesia” dan dia terlihat bingung, saya tambahkan keterangan “Treinte horas, flying!”

”Aaah, far!” katanya.

“Lima, always foggy. Eee.. dark?” saya sudah kehabisan kosakata, jadi saya bertanya sambil menunjuk-nunjuk langit.

“Si! Sun no… “ Katanya lagi ditambah juga dengan bahasa tubuh.

Kami pun tertawa bersama. Konon Lima memang kebanyakan mendungnya sepanjang tahun, jadi kalau sempat ada cahaya matahari terang benderang di sana, nikmatilah!

Kami berkendara dari Callao, daerah tempat bandara berada menuju ke Miraflores. Kendara yang cukup berkesan karena jalur ini melewati tepi Samudra Pasifik. Ditambah lagi dengan keistimewaan lalu-lintas di Lima. Istimewa? Bisa saya simpulkan semuanya suka ngebut! Termasuk taksi yang saya tumpangi. Nampaknya mereka kurang suka mengerem, kecuali di lampu merah.

Di Miraflores kami menginap di sebuah hostel sederhana dan nyaman bernama B&B Tradiciones. Kami disambut hangat oleh si empunya hostel, Angelo. Hostel miliknya terletak persis di seberang Parque Tradiciones, dari situlah namanya berasal. Hostelnya langsung membuat kami merasa di rumah. Kalau kata teman jalan saya kami seperti menginap di rumah Paman sendiri. Pilihan akomodasi yang tepat! Kami ditawari sarapan. Saya langsung menyesap Mate de Coca alias teh Koka untuk menemani sarapan saya. Tidak buruk. Akhirnya saya hafal rasanya karena hampir setiap hari di Peru saya minum teh itu.

Kami beristirahat hanya untuk mandi dan tidur siang sejenak. Selepas makan siang kami langsung menuju Lima Centro untuk melihat-lihat. Jalan-jalan sore itu meski tidak begitu lama namun berkesan; tapi sadar diri karena harus mengejar penerbangan subuh, maka kami pun memastikan tidak terlalu malam sampai di hostel untuk segera beristirahat. Maklum masih jet-lag.

Machu Picchu: Mimpi yang Jadi Kenyataan

Saya beruntung memilih kursi di jendela saat terbang dari Lima ke Cusco dan lebih beruntung lagi karena memilih untuk tidak tidur. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Ini langsung menjadi pengalaman terbang favorit saya. Betapa tidak, setelah lepas landas dari Lima saya langsung disuguhi pemandangan puncak-puncak Andes ditambah lagi dengan matahari terbit di horizon. Spektakuler!

Tentu saya tidak bisa duduk diam, sepanjang perjalanan saya asyik klak-klik mengabadikan momen. Bersyukur hari itu cerah sekali sehingga mendarat di di Cusco pun jadi pengalaman begitu berkesan. Menembus lembah-lembah yang kala itu berwarna keemasan dengan latar belakang puncak-puncak salju membuat saya saya hanya tersenyum dan tersenyum, meski pastinya sangat mengantuk! Saya langsung tahu bahwa ini hanya akan jadi semakin seru

Perjalanan kami masih panjang. Dari bandara kami akan membelah Lembah Keramat Inka (The Sacred Valley) untuk sampai di Ollantaytambo. Cusco-Ollantaytambo ditempuh dalam 2 jam dan adalah pengalaman berkendara yang mengasyikkan. Jalur pegunungan Urubamba menemani kendara kami ditambah dengan penampakan kawanan llama dan alpaca. Bahkan sebelum saya sampai di Machu Picchu saya bisa bilang ini adalah mimpi yang jadi kenyataan!

Dari Ollantaytambo kami lanjut naik kereta Inca Rail ke Machu Picchu Pueblo (atau dikenal juga dengan Aguas Calientes) yang adalah perhentian terakhir kami sebelum bersua dengan Sang Gunung Tua: Machu Picchu. Perjalanan naik kereta api ini pun tidak kalah apiknya. Jalur keretanya benar-benar berada di sepanjang sungai Vilcanota dengan latar belakang puncak-puncak Andes yang tertutup salju.

Waktu itu masih pagi betul di Aguas Calientes. Malam sebelumnya saya teler beneran! Sore sampai pagi itulah saya membalas tidur. Bahkan saya makan malam Papas Fritas a.k.a kentang goreng sambil merem. Yaiyalah! Saya masih jetlag! Tapi perjuangan belum selesai, saudara-saudara! Karena saya harus bangun pagi juga hari itu untuk antri bus ke Machu Picchu.

Yap, dari Aguas Calientes hanya perlu naik bus saja selama kurang lebih 30 menit untuk sampai ke pintu gerbang Machu Picchu. Jam 5 pagi matahari belum muncul tapi antrian bus sudah mengular. Saya pun masih mengantuk dan masih mengumpulkan nyawa sampai sempat heboh sendiri menyangka tebing batuan adalah milky-way! yup, as in the galaxy. Ini entah mengantuk atau memang siwer sih ya… :-p

Bagi sebagian orang termasuk saya dan teman-teman pada waktu itu, bangun pagi untuk mengantri adalah pilihan yang tepat  karena semakin siang Machu Picchu akan semakin ramai dan tentunya kurang ciamik jika harus antri foto dengan lebih banyak orang. Terlebih, pasti mengangumkan melihat matahari terbit dan cahayanya yang langsung menyorot Huayna Picchu. Ahhh… sungguh tidak sabar!

Setelah satu jam mengantri, akhirnya kami dapat giliran juga untuk naik ke bus. Matahari terbit ketika bus kami menyusuri jalan menanjak dan berkelok-kelok menuju ke Machu Picchu. Jujur saja di dalam bus rasanya deg-degan juga ditambah penasaran bukan kepalang. Setelah turun dari bus dan melewati pintu masuk ternyata semuanya mengalir begitu saja. Tunjukkan tiket, ikuti jalan masuk, naiki tangga batu (yang ternyata lumayan juga capeknya), ketika sampai di puncak tangga jalan sedikit, menengok ke kanan dan tadaaaaa…. Pemandangan Machu Picchu seperti yang selama ini saya bayangkan tersaji di depan mata.

screen-shot-2016-11-20-at-2-55-26-pm

See? Picture perfect kan? hmmm… Machu Picchu-nya lho ya. Tapi sayanya juga not-so-bad lah ya :p terlihat segar dan sumringah sekali kan? Iya, mungkin inilah yang bisa dibilang momen sempurna ketika mimpi jadi kenyataan. Jujur-jujuran nih ya bahkan saya lebih merasakan excitement di sini ketimbang setelah dinyatakan lulus sidang tugas akhir sarjana. Karena saya ingat betul ketika dinyatakan lulus yang pertama kali melintas di benak saya justru “terus apa habis ini?” makanya saya keluar ruang sidang dengan wajah agak bingung meskipun ya senang juga sih :p

Jadi… ya, pagi itu 10 Agustus 2015, mimpi saya jadi kenyataan. Saya melihat  dan mengalami dengan mata kepala sendiri The Lost City of the Incas. Kebayang dong ya… bagaimana rasanya kalau apa yang selama ini hanya saya lihat di televisi dan majalah ada di depan mata saya dan bisa saya pegang dan foto dari dekat. Hari itu saya menghabiskan 3 jam di Machu Picchu. Saya naik turun tangga-tangganya, lihat-melihat pemandangan  pegunungan dari balik jendela rumah-rumah dari batu itu dan saya pun menyaksikan bahwa sistem irigasi yang ada masih berfungsi sampai hari itu. Fantastis!

Setelah selesai menjelajah Machu Picchu, kami nongkrong di cafetaria setempat: minum soda, makan sandwich sambil lihat-lihat hasil foto- What a life! Dan sembari menunggu bus pulang ke Aguas Calientes kami juga antri buat dapat kenang-kenangan spesial! Apa gerangan? stempel Machu Picchu di paspor masing-masing! Boleh juga ya idenya…

Menunggu bus pun bukan lagi pengalaman melelahkan seperti tadi pagi, tidak hanya bagi kami tapi rasanya bagi semua orang. Bagaimana tidak, hari itu cuaca bagus sekali, semuanya pasti puas menjelajah Machu Picchu dan dapat dokumentasi yang keren. Di bus pulang ke Aguas Calientes, meski capek tapi kami semua sumringah mengingat pengalaman di Machu Picchu dan membahas sambil berkelakar bahwa orang-orang yang ikut Inca Trail untuk melihat Machu Picchu memang sepertinya kurang tantangan dalam hidupnya. Ya…sepertinya.

Duri, November 2017

“Pa, Natal tahun ini nggak pulang ya”

“Mau ke mana lagi?”

“Ke Amerika Selatan. Transit dulu di NYC pas Christmas Day habis itu langsung ke Peru”

“Hah, Peru lagi? Kan sudah pernah ke sana”

“Iya memang… tapi ditambah 2 negara lain juga. Mau ke Machu Picchu lagi, tapi sekarang jalan kaki, lewat Inca Trail”

“Wah, emang kamu kuat?”

“Yah, dikuat-kuatin lah!”

…tapi sebenarnya saya pun nyengir doang di ujung telepon sambil diam-diam mempertanyakan hal yang sama pada diri sendiri.

Bersambung…

Catatan Penulis:

Tulisan ini adalah bagian dari visi yang sebenarnya sudah saya gagas sejak 2015 yang lalu yaitu untuk membuat sebuah travelogue: “Chrissy’s Odyssey: Perjalanan Impian untuk Mengenal Dunia” yang menceritakan kisah-kisah dalam mewujudkan the bucket list saya.  Meski sampai saat ini masih berproses untuk menemukan bentuknya mau seperti apa, akhirnya saya beranikan saja menerbitkan (sebagian kecil/ awal) tulisan ini. Tujuannya, supaya saya sendiri makin terpacu untuk bisa mematangkannya. Semoga kalian semua senang membacanya. Jangan segan untuk mengkritik ya, para pembaca yang budiman. Bisa dari kolom komentar bisa juga layangkan surel. Terima kasih sudah membaca!

Screen Shot 2018-05-20 at 11.13.37 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s