Why travelling makes me happy

Hampir pasti setiap saya ketemu teman, kerabat atau saudara yang jarang bertemu dengan saya (hiks, di sini kadang saya merasa sedih karena memang saya tinggal berjauhan dengan hampir semua teman, kerabat dan saudara) pasti setelah salaman dan cipika cipiki yang terlontar dari mereka adalah: “Jalan-jalan terus!” Ucapan itu selalu saya balas dengan senyuman dan sambil cengangas-cengenges bilang “hehe, iya”  … pengennya sih dilanjut ngomong “So what?” *nynyir mode on* haha, tapi nggak pernah kan ngomong gitu 😛

Haha… tapi suwerrrrr saya cengangas-cengenges karena bingung mau meresponi apa. Kepikir sih, selanjutnya kalau saya mengahadapi ungkapan jalan-jalan terus akan saya balas dengan semangat dan lantang “Iya, dong!” But, to be honest I am afraid I will send out wrong impression if I do that. Thoughts, my reader? *if any*

Ini antara lucu atau menyedihkan. Jadi, dua bulan yang lalu saya datang ke reuni SMA. Intinya teman seangkatan saya pada nggak tahu saya kerjanya apa, yang mereka tahu saya tiba-tiba lagi ada di mana gitu. Based on our social media interaction ada yang nyangka saya kerja di National Geographic (Waaah… ini mah di AMIN kan sekuat tenaga), ada yang nyangka saya jadi fotografer (ini juga di AMIN kan sekuat tenaga) dan tentu ada juga yang tahu kalau saya kerjanya di antah berantah di Sumatra ini dan di waktu cuti baru saya pergi mengembara. Jadi intinya? Nggak ada, mau cerita aja kalau saya di cap tukang jalan-jalan. That’s the only thing most of my highschool friends know about me based on my social media. Funny or pathetic, eh?

Beda lagi dengan sahabat dan keluarga dekat yang emang sudah paham dan mengerti bahwa saya ini anaknya kaki gatal, pasti nanyanya: “Berikutnya mau ke mana lagi?” Naaahhh, kalau yang gini jawabnya tergantung mood. Kalau saya lagi sok misterius pasti jawabnya antara “Ada Deh…” atau lagi sambil cengangas-cengenges “Hihihi, Nggak tahu!” haha padahal sayanyah lagi ngurus visa atau baru saja beli tiket *evil smirk* nah kalau lagi jujur-jujuran mah pasti langsung bilang dengan lantang mau ke mana dan cerita dengan bahagianya kenapa saya mau ke sana.

Yes… that’s the joy of travelling to me. Bahkan menceritakan rencana perjalanan saja buat saya adalah hal yang sangat menyenangkan, makanya saya belum akan berhenti travelling! Tentunya selama masih ada rezeki kesehatan dan modal saya akan teruskan melihat dunia… masih banyak banget yang mau dilihat soalnya.

Pastinya ada alasan mengapa travelling membuat saya bahagia… dan bagi saya alasan-alasan itu adalah sebagai berikut:

Travelling memotivasi saya untuk lebih hemat!

Iya dong! Beli tiket pake apa sodara-sodara? Duit. Bayar hostel pake apa sodara-sodara? Duit. Ya iya travelling memang perlu modal! Sehingga, memang harus disipilin menganggarkan uang dan menabung. Di satu sisi beruntung juga sih tinggal di Duri ini yang berbatasan langsung dengan hutan… belanja-belanji dan gaya hidup bisa ditekan sedemikian rupa. Tapi jatuh juga euy di pencobaan kalau sudah online shopping! Well, intinya soal duit ini harus tegas sama diri sendiri bahwa semuanya sudah dibuat prioritas yah dan harus dipatuhi. Saya pribadi punya file untuk simulasi keuangan nah… saya udah bikin sampai 10 tahun ke depan (for now) jadi dari situ saya bisa lihat deh di bulan apa bisa keluar uang buat beli tiket, buat book hostel dsb. Atau bisa kebalikannya… jika punya rencana untuk pergi ke mana di waktu tertentu tinggal menyesuaikan di bulan-bulan sebelumnya plus disisihkan untuk menabung dan investasi ya…. jangan lupa! Excellent planning and commitment will take you anywhere!

sahara-night
Camping di bawah gemintang gini juga perlu bayar 😛 Jadi mari disiplin menabung ya… Maroko, 2016.

 

Travelling juga memotivasi saya agar lebih sehat!

Saya tahu diri kalau saya ini sudah tergolong obesitas. Tapi saya tidak mau menyerah. I’m obese and I travel the world. Saya sukanya melihat alam jadi memang trekking dan aktifitas fisik adalah yang saya cari dalam perjalanan saya. Bahkan kalau keliling kota juga mesti pake jalan kaki… Saya nggak mau bikin susah orang di perjalanan, makanya saya harus olahraga! Setiap akan berangkat trip saya pasti lebih konsisten olahraga. Karena itu tadi, I want to reach that summit, I want to go as far as I could. Saya nggak mau badan ini jadi penghalang antara saya dan mimpi-mimpi saya… jadi saya harus mempersiapkan diri dan konsisten berolahraga karena ini bagian dari mimpi saya. And I’m happy!

screen-shot-2016-11-20-at-1-53-52-pm
Yang penting semangat dan jangan lupa berlatih! Biar obesitas tapi berusaha untuk lebih sehat dan jangan takut bermimpi melihat dunia!!! Waerebo, 2015.

 

Saya berinteraksi dengan berbagai macam orang selama perjalanan…

Ya… dan itu semua menambah pengalaman dan jadi kisah tersendiri bagi saya. Banyak orang-orang baik yang saya temui, seperti Uncle Mustafa dan Aunt Fatma di Goreme, Turki. Cerita saya dan teman-teman diundang ke rumahnya buat sarapan ada di sini. Bertemu Oma-oma yang punya bakery di Franz Josef, NZ dengan kisah uniknya, pergi liburan dari Inggris and never come back! Diundang makan malam dan ngebir di rumah bos travel empunya hotel dan mobil yang kami sewa selama di Kathmandu, Nepal… si Mustafa  dan Abdul tour guide kami di Maroko yang jayus total tapi tetep berusaha bikin kami ketawa selama 8 jam perjalanan Sahara-Marrakech sampai juga bertemu yang agak kurang menyenangkan seperti tukang taxi scammer di Maroko dan Korea juga si bapak-bapak yang serem dan hampir malak ketika di Chaouen… huhu untuk ada mas-mas ganteng Riad Baraka yang belain kita-kita HAHAHA… hmmm kayanya itu aja deh yang kurang menyengangkan. See… jauh lebih banyak orang baiknyaaaah!

screen-shot-2016-11-12-at-1-12-48-pm
Sumringah banget bisa main bareng anak-anak keluarga Celestinos ini… Peru, 2015.

 

Melihat keindahan dunia, alam dan orang-orangnya

Iya, melihat dan merasakan sendiri keindahan alam itu luarrrrr biasa rasanya. Seperti yang pernah saya tulis di sini, kutipan favorit saya dari Iyaaka berkata demikian:

Esghallghilnguq [what you do not see],
Nagaqullghilnguq [do not hear],
Nanghiillghilnguq [do not experience],
 Nalluksaghqaq [you will never really know].”
–  Iyaaka (Anders Apassingok, St. Lawrence Island Yupik)
From Sivuqam Nangaghnegha: Siivanllemta Ungipaqellghat
(Lore of St. Lawrence Island: Echoes of our Eskimo Elders
)

Tidak ada yang bsia menggantikan perasaan ketika saya pertama kali melihat Mt Everest… atau ketika akhirnya melihat Machu Picchu nyata di depan saya dan ketika bisa menatap bintang di gurun Sahara. Intinya kalau untuk saya, selama saya masih kuat dan mampu, I will definitely go on an adventure and see the world.

Naah… selain ciptaan Tuhan yang nyata lewat alam semesta ini… sayapun selalu terkesima dengan budaya manusia dan bahwa seperti yang saya sebutkan di poin sebelumnya masih sangat banyak orang baik di dunia ini. Haha… selain itu dengan jalan-jalan kita juga bisa menyadari bahwa semua orang di dunia ini punya karakter kecantikannya masing-masing. Beautiful people from all around the world. Eheeem… waktu di Brazil… kami cewek-cewek sampai bisa menemukan satuan baru: OGPM alias Orang Ganteng per Menit! Well, that’s just a fun side of it 😀 intinya we do have a #beautifulworld with #beautifulpeople in it. So go, see and cherish it!

 

Travelling adalah sarana kontemplasi dan sarana memperkaya diri (dengan pengalaman)…

Stabil secara finansial itu penting sekali, tapi jauh lebih penting (bagi saya) adalah stabil secara emosional. Travelling (sampai saat ini) adalah cara saya menyeimbangkan hidup. Travelling menyegarkan pikiran dan membuat saya melalukan banyak hal yang saya pikir tidak bisa saya lakukan sebelumnya. I push myself to the limit and I did it.

Kenapa saya begitu suka jalan-jalan akhirnya kembali kepada jawaban paling esensial yaitu karena traveling membuat saya senang! Dan tentu tidak semua orang sama…

Saya menghormati orang-orang lain yang tidak sependapat dan mungkin punya cara lain untuk mencapai keseimbangan  dalam hidup. Jadi, please, jangan semerta-merta bilang: ” Buang-buat duit aja…”, “ckckck… ya ampun hidup lo ya… jalan-jalan terus” Hey, this makes me happy… and I do my obligations and I work hard to finally come to this point. Intinya… let’s respect people for their choices 🙂

Jadi tahu kan sekarang kenapa travelling bikin saya happy!?

screen-shot-2016-11-20-at-2-55-26-pm
Percayalah, perasaan ini tidak tergantikan dan amat sulit dilupakan… Machu Picchu, Peru, 2015.

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Nice blog. Check our posts at http://10tips.in Follow us if you like it. Contact us if you want to have a link to your blog in our site for FREE 🙂

    Like

  2. Yang lebih indah nantinya adalah. Kalau sudah punya anak, ceritanya ga melulu cerita si Kancil anak nakal. Hahaha 🙂

    Jalan-jalan tanpa disadari bakalan jadi Investasi masa depan.

    Like

  3. Sama banget mbak sama sy, mbak..
    tapi teteup saya mah cuek aja denger apa kata orang
    yang penting dimana-mana hatiku senang.. 🙂

    Like

  4. Yenny says:

    Seneng deh baca tulisannya dan bener bgt tuh yg kamu alami hahaha, happy travelling ya mba cantik …

    Like

  5. Nuniek F says:

    Traveling emang bikin happy…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s